Amlapura (Bali Post)- Perkembangan dunia sinematografi semakin menggeliat di kalangan pelajar. Pemkot Denpasar semakin gencar melakukan pembinaan film independent dan dokumenter yang dibuat oleh pelajar. Proses pembinaan dilakukan melalui workshop dan festival – festival yang bekerjasama dengan pihak kompeten di dunia perfilman. Salah satunya, melalui Denpasar Film Festival yang diselenggarakan setiap tahun. Pada ajang ini, SMK PGRI Amlapura yang ikut dalam lomba film dokumenter berhasil merebut juara I untuk kategori pelajar.

Malam penganugrahan serangkaian 7th Denpasar Film Festival, diselenggarakan Minggu (21/8) lalu, berlokasi di Istana Taman Jepun, Denpasar. Hadir Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra, didampingi Plt. Kadis Kebudayaan Kota Denpasar Ni Nyoman Sujati, serta sejumlah seniman dan pemerhati film di Kota Denpasar. Salah satu yang hadir dan cukup menyita perhatian adalah Slamet Raharjo. Dia sutradara film terkenal yang sudah tidak diragukan lagi sepak terjangnya di dunia sinematografi tanah air.

Sebelum menggelar serangkaian lomba, ajang Denpasar Film Festival juga mengagendakan serangkaian pelatihan. Dari hasil pelatihan itu, peserta dipandu membuat film berdurasi dua sampai lima menit. Peserta dari tingkat SMP dan SMK se-Bali ini juga mendapat dana stimulan sebesar masing – masing Rp 2 juta untuk dilombakan. Lomba film dokumenter untuk umum berjumlah 67 peserta dari seluruh Indonesia. Kategori umum ini dicari unggulan dan satu terbaik.

Sedangkan, kategori pelajar dikhususkan yang berdomisili di Bali, mencari tiga pemenang. Dalam kesempatan ini, Pada katergori Pelajar,  film  ‘Penting’  karya Ni Komang Ary Dharmayanti (SMK PGRI  Amlapura)  tampil sebagai Juara I, disusul ‘Pemuek’ karya Ni Kadek Sriani  (SMAN 1 Susut, Bangli) sebagai Juara II dan ‘PDAM Leak’  karya Gung Mayun  (SMAN 1 Semarapura ) sebagai Juara III. Film ‘Penting’ dianggap sebagai film terbaik oleh para juri. Mereka yang terlibat dalam penilaian karya, seperti Slamet Rahardjo Djarot, Lawrence Blair, Rio Helmi, Bre Redana, I Made Bandem, dan Wayan Juniarta.

Dalam film ‘penting’ tersebut, Ni Komang Ary Dharmayanti berusaha menyoroti kondisi perangkat gamelan penting. Alat musik tradisional ini kerap digunakan dalam pementasan genjek maupun cakepung.  Namun, kini gamelan penting justru dilupakan dan terpinggirkan. “Di Karangasem itu sekarang hanya ada satu orang yang bisa membuat.  Beliau namanya I Wayan Rai, tinggal di Jalan Ngurah Rai. Beliau yang masih intens membuat gamelan penting dan bermain penting,” ujar sang sutradara, Ary Dharmayanti, Minggu (28/8) kemarin.

Putu Doantara Yasa, pembina film di SMK PGRI Amlapura mengungkapkan, film itu sebenarnya adalah karya tugas akhir siswanya. “Kami mendorong agar film ini tidak hanya disimpan di lemari, tapi coba diikutkan dalam festival. Ternyata bisa dapat juara. Ini lompatan penting bagi kami, biar siswa kami tidak malu-malu lagi menunjukkan karyanya. Bukan sebatas untuk kepuasan pribadi saja,” katanya. (kmb31/100k)