AMLAPURA, BALIPOST.com – Aktivitas kegiatan belajar mengajar di sekolah rawan bencana sudah terhenti. Kalangan guru dan siswa dari sekolah tersebut kebingungan. Apalagi, SMK karena jurusan antar sekolah berbeda-beda, sehingga tak memungkinkan digabung.

Tetapi, sekolah di Kota Amlapura ini punya cara tersendiri untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar agar tidak terhenti. Yakni, dengan cara menerapkan pembelajaran online, program kegiatan belajar mengajar siswa dan guru dalam sebuah aplikasi.

Cara ini diterapkan SMK PGRI Amlapura, kepada seluruh siswanya di semua jenjang. Pihak guru setempat mulai menyosialisasikan cara ini kepada siswa, Sabtu (30/9) pagi. Tujuannya, agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dalam situasi tak menentu  karena ancaman erupsi Gunung Agung ini.

Seperti diketahui, sekolah swasta di Jalan Sudirman, Amlapura ini, masuk zona kuning, sehingga salah satu jalur lahar pada letusan Gunung Agung tahun 1963 lalu. Banyak korban berjatuhan kala itu di sekolah ini, sehingga sampai sekarang sekolah ini dikenal angker.

Salah satu guru multimedia di sekolah setempat, Putu Doantara Yasa, mengatakan sistem pembelajaran online ini, menggunakan aplikasi Edmodo. Dari aplikasi ini, masing-masing guru memberikan materi, layaknya kelas virtual. Nanti materi pembelajaran ini dapat dilihat dan dipahami oleh siswa, ibarat melihat status di media sosial.

Nanti materi itu bisa berupa poto atau gambar buku. Di sana guru menjelaskan isi materinya, kemudian dikomentari oleh siswa. Disanalah terjadi tanya jawab antara guru dan siswa.

Kalau proses ini sudah berjalan lancar, selanjutnya baru guru memberikan tugas kepada siswa. Nantinya, yang mendorong siswa terus belajar adalah tugas-tugas yang diberikan para guru.

Jawaban siswa terhadap tugas ini, nanti langsung diberikan nilai oleh guru di aplikasi tersebut. “Penerapan pembelajaran online ini akan diterapkan selama guru dan siswa masih dalam situasi harus mengungsi. Entah sampai kapan, karena kapan Gunung Agung meletus juga tak dapat ditentukan,” kata Doantara Yasa.

Dunia pendidikan di Indonesia, sebenarnya sudah tidak asing dengan aplikasi ini. Tetapi, jarang yang memanfaatkannya. “Ini cara yang paling tepat di tengah situasi sekarang. Guru aman, siswa aman, kegiatan belajar mengajar juga tetap berjalan, ini terpola secara online. Selain itu, kelebihannya proses pembelajaran ini juga dapat dimonitor langsung oleh orangtua siswa,” kata guru berprestasi di bidang multimedia ini.

Kepala SMK PGRI Amlapura, I Ketut Sutarsa, menegaskan, dari pada guru dan siswa sementara pindah ke sekolah lain, situasi dan cara belajarnya jelas berbeda, apalagi SMK, karena jurusannya di setiap sekolah itu berbeda-beda. Terlebih, melihat data dari sekolah, guru dan siswa di sekolah ini 81 persen sudah mengungsi dari tempat tinggalnya sekarang.

Kalau pun memaksakan diri untuk tetap ke sekolah, siswa dan guru juga tidak akan bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan tenang. “Meski harus mengungsi, kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan. Sebab, ke depan nilai bagi siswa akan sangat penting. Apalagi, bagi siswa kelas XII,” tegasnya.

Sekarang pihaknya tinggal memikirkan rencana tatap muka guru dan siswa, yang rencananya akan dilakukan seminggu atau dua minggu sekali. Sebab, SMK dalam proses pembelajarannya sebenarnya lebih banyak kegiatan praktek.

Jumlah siswa di sekolah ini mencapai 320 siswa, terdiri dari jurusan Multimedia, TKJ (Teknik Jaringan Komputer), Jasa Boga, Akomodasi Perhotelan. Kapan dan dimana tatap muka ini akan dilaksanakan belum dapat dipastikan. Pihak sekolah masih mencari tempat alternatif yang dinilai aman dan nyaman. (Bagiarta/balipost)