Karangasem memiliki kekayaan seni dan budaya yang beragam. Namun, tidak semua dapat dilestarikan dengan baik. Seperti alat musik penting, alat musik tradisional khas Karangasem ini, nyaris punah lantaran yang menggemarinya semakin sedikit. Untuk mengangkat kembali kekhasan alat musik penting ini, SMK PGRI Amlapura mengangkat tema alat musik penting ini dalam sebuah cerita film fiksi, yang digarap siswa dari jurusan Multimedia.
Menurut Pembina Tim Multimedia sekolah setempat, Putu Doantara Yasa, S.Pd., Rabu (2/8) kemarin, mengatakan alat musik penting ini sangat khas. Dahulu, alat musik ini sempat populer di era tahun 1960-an. Namun, minimnya upaya pelestarian dan regenerasi senimannya, membuat seni musik ini sulit berkembang lagi di daerah sendiri. Bahkan, seniman yang bisa memainkan alat musik tersebut saat ini bisa dihitung dengan jari. “Kami prihatin melihat masa depan alat musik penting ini, seperti sekarang. Keprihatinan itu kami sikapi dengan mengangkat kembali tema alat musik penting ini ke dalam cerita film fiksi garapan anak-anak multimedia agar terlihat lebih menarik dan mengundang minat untuk mencobanya,” kata Doantara Yasa.
Film fiksi ini menceritakan bagaimana kegiatan belajar mengajar di dalam kelas berlangsung di sekolah itu. Kemudian, suatu ketika siswa diberikan tugas untuk bisa memainkan alat musik apa saja. Rata-rata siswa memikirkan memainkan alat musik modern, seperti gitar dan lainnya. Tetapi, ada salah satu siswa yang akhirnya memilih memainkan alat musik penting, berkat dorongan ibunya. Sebelum memutuskan memainkan alat musik penting, terjadi perdebatan serius antara anak dan ibunya. Namun, sang anak akhirnya luluh, karena ibunya menegaskan bahwa tidak boleh malu memainkan alat musik tradisional, karena itu adalah warisan seni budaya yang harus dilestarikan. “Kamu besar karena makan-makanan tradisional ini, lantas kenapa kamu harus malu memainkan alat tradisional penting ini,” kata sang ibu dalam cerita film itu.
Sinopsis cerita film fiksi yang digarap langsung siswa kelas XII Multimedia, Kadek Ari Krisnayanti dan Firman Agi ini, cukup menarik dan mendidik. Dimana, ditengah ancaman modernitas dunia remaja, penulis sinopsis berusaha menyampaikan pesan, bahwa budaya harus dilestarikan. Artinya, tumbuh besar di wilayah yang kaya dengan seni budaya, seharusnya tidak malu memainkan alat musik tradisional khas daerah itu sendiri. Justru sebaliknya harus mau dan mampu memberdayakan dan melestarikanya sebagai warisan yang tak ternilai harganya. “Film fiksi ini memang kami kemas sederhana. Mengingat waktu penggarapannya tidak banyak. Tetapi, kami ingin film ini mendidik remaja, sekaligus memperkenalkan alat musik penting ini, karena kami konsisten menjaga seni budaya khas Karangasem agar tidak punah,” tegasnya.
Meski digarap dalam waktu singkat, film fiksi ini mampu merebut juara II di ajang FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) tingkat Provinsi Bali, belum lama ini. Capaian ini mengulang sukses tahun-tahun sebelumnya, yang mengangkat tema alat musik penting, tetapi dalam film dokumenter yang berhasil merebut juara I Provinsi Bali dan bersaing di tingkat nasional. Regenerasi seni musik penting ini harus dilakukan agar selajutnya dapat diwariskan dan dilestarikan. Jika tidak, bukan tidak mungkin seni khas Karangasem ini diklaim daerah lain atau negara lain.
Saat ini, satu-satunya yang masih aktif memainkan ini hanya Sekaa Penting Merdu Komala Karangasem yang diketuai Wayan Widana. Sejak kemunculannya lagi setelah terbentuknya sekaa ini, banyak utusan dari daerah lain memintanya untuk membuatkan alat musik penting dan mengajarkan beberapa gendingnya. Namun, Widana mengaku menolak sambil berharap pemerintah daerah peka terhadap persoalan ini. Sebab, meski sejarah keberadaan seni musik penting ini sudah ada sejak dulu di Karangasem, namun upaya-upaya untuk mematenkannya belum ada. (kmb31)